Cara Publikasi Jurnal Scopus

Banyak peneliti Indonesia yang sudah punya naskah bagus — tapi tidak tahu harus mulai dari mana untuk menembus jurnal Scopus.

Panduan ini membahas langkah-langkah nyata cara publikasi jurnal Scopus dari awal hingga artikel Anda resmi terbit, termasuk hal-hal yang sering dilewatkan peneliti pemula.

Apa Itu Publikasi Jurnal Scopus?

Publikasi jurnal Scopus berarti artikel ilmiah Anda diterima dan diterbitkan oleh jurnal yang sudah terindeks di database Scopus — database sitasi ilmiah terbesar milik Elsevier yang diakui secara internasional.

Artikel yang terbit di jurnal Scopus otomatis terhitung sebagai publikasi internasional bereputasi dan diakui untuk kenaikan jabatan dosen, poin KUM, serta syarat kelulusan S3 di banyak perguruan tinggi Indonesia.

Syarat Utama Sebelum Submit

Sebelum submit ke jurnal Scopus mana pun, pastikan naskah Anda memenuhi syarat berikut:

  • Ditulis dalam Bahasa Inggris — hampir semua jurnal Scopus mensyaratkan ini
  • Menggunakan struktur IMRaD — Introduction, Methods, Results, Discussion
  • Tingkat plagiarisme di bawah 20% — idealnya di bawah 15% (cek via iThenticate atau Turnitin)
  • Referensi minimal 20–30 sumber — utamakan referensi 5 tahun terakhir
  • Data dan metodologi valid — bisa diverifikasi dan direplikasi
  • Belum pernah diterbitkan di tempat lain — double submission adalah pelanggaran etik serius

Langkah-Langkah Cara Publikasi Jurnal Scopus

Sebelum Kamu Lanjut Baca

Kenapa Mahasiswa & Dosen Wajib Tahu Proses Ini?

Bukan soal akademis semata — ini langsung berdampak pada karier, kelulusan, dan pengakuan ilmiah Anda secara internasional.

S3

Syarat Wajib Lulus

Banyak kampus mewajibkan minimal 1 artikel Scopus sebagai syarat kelulusan program doktoral.

KUM

Poin Angka Kredit Dosen

Publikasi Scopus memberikan poin KUM tertinggi untuk kenaikan jabatan akademik dosen.

Global

Pengakuan Internasional

Artikel di Scopus bisa dikutip peneliti seluruh dunia dan membangun reputasi ilmiah Anda.

⚠️

Yang Terjadi Jika Tidak Tahu Prosesnya

Naskah bagus sekalipun bisa ditolak di meja editor dalam 3 hari karena format salah, jurnal tidak sesuai, atau cover letter tidak ada. Memahami alurnya dari awal menghemat waktu berbulan-bulan.

 

1. Siapkan Naskah yang Layak Submit

Naskah yang siap submit bukan hanya naskah yang sudah selesai ditulis — tapi naskah yang sudah melalui proofreading bahasa Inggris, pengecekan plagiarisme, dan formatting sesuai gaya sitasi jurnal target.

2. Pilih Jurnal Scopus yang Tepat

Jangan submit ke jurnal pertama yang ditemukan. Gunakan Scopus Source List atau Scimago Journal Rank (SJR) untuk mencari jurnal berdasarkan bidang ilmu dan quartile (Q1–Q4).

Pertimbangkan tiga hal saat memilih jurnal:

  • Kesesuaian topik — cek focus & scope jurnal secara detail
  • Quartile — Q1 paling bergengsi, Q4 paling mudah ditembus
  • APC (Article Processing Charge) — ada yang gratis, ada yang berbayar hingga jutaan rupiah

3. Baca Author Guidelines dengan Teliti

Setiap jurnal punya aturan berbeda soal format, panjang artikel, jumlah kata abstrak, dan gaya sitasi (APA, Vancouver, IEEE, dll). Mengabaikan author guidelines adalah alasan paling umum desk rejection.

4. Tulis Cover Letter yang Meyakinkan

Cover letter adalah surat pengantar kepada editor. Isinya singkat — 3 paragraf cukup: (1) apa topik artikel Anda, (2) mengapa relevan dengan jurnal tersebut, (3) pernyataan bahwa naskah belum dikirim ke tempat lain.

5. Submit Melalui Sistem Jurnal

Hampir semua jurnal Scopus menggunakan sistem submission online seperti ScholarOneEditorial Manager, atau OJS. Daftarkan akun, isi semua metadata dengan lengkap, dan upload file sesuai format yang diminta (biasanya Word + PDF terpisah).

6. Tunggu Proses Review

Setelah submit, artikel masuk ke tahap peer review. Prosesnya bisa memakan waktu 2 minggu hingga 6 bulan tergantung jurnal dan ketersediaan reviewer. Anda akan mendapat notifikasi email untuk setiap update status.

7. Respons Komentar Reviewer

Mayoritas artikel tidak langsung diterima — biasanya masuk status Major Revision atau Minor Revision. Respons setiap komentar reviewer secara sistematis dan profesional. Ini tahap yang paling menentukan.

8. Proof dan Publikasi

Setelah diterima, Anda akan mendapat galley proof untuk dicek sebelum resmi terbit. Setelah disetujui, artikel terbit online dan mendapat DOI permanen.

Berapa Lama Proses Publikasi Jurnal Scopus?

Tahap Estimasi Waktu
Desk review oleh editor 1–2 minggu
Peer review 1–3 bulan
Revisi dan resubmit 2–4 minggu
Review revisi 2–4 minggu
Proof dan terbit 1–4 minggu
Total estimasi 3–6 bulan

Jurnal dengan jalur fast track bisa lebih cepat — 1–2 bulan. Namun umumnya dikenakan biaya tambahan.

📋 Riviera Publishing — Panduan Publikasi

Checklist Sebelum Submit ke Jurnal Scopus

8 poin wajib yang sering dilewatkan peneliti — pastikan semua terpenuhi sebelum klik Submit

✅ Bahasa & Struktur

Naskah dalam Bahasa Inggris, struktur IMRaD lengkap dan benar.

✅ Plagiarisme < 20%

Sudah dicek via iThenticate atau Turnitin, idealnya di bawah 15%.

✅ Jurnal Sudah Diverifikasi

Cek di Scopus Source List — bukan jurnal predator.

✅ Author Guidelines Diikuti

Format, gaya sitasi, dan panjang artikel sesuai ketentuan jurnal.

✅ Cover Letter Siap

Surat pengantar ke editor sudah ditulis — singkat, padat, relevan.

✅ Metadata Lengkap

Judul, abstrak, kata kunci, dan data penulis diisi lengkap di sistem.

Butuh bantuan dari nol hingga ACC?

Tim Riviera siap mendampingi — dari pemilihan jurnal, editing, hingga respons reviewer.

📞 Konsultasi Gratis Sekarang

 

Checklist Sebelum Submit ke Jurnal Scopus

  • Naskah sudah ditulis dalam Bahasa Inggris yang baik
  • Struktur IMRaD sudah lengkap dan benar
  • Plagiarisme di bawah 20%
  • Jurnal target sudah dicek di Scopus Source List (bukan predator)
  • Author guidelines sudah dibaca dan diikuti
  • Cover letter sudah disiapkan
  • Semua file sudah sesuai format yang diminta
  • Metadata (judul, abstrak, kata kunci) sudah diisi lengkap di sistem

FAQ

Apakah harus berbayar untuk publikasi di jurnal Scopus?

Tidak selalu. Ada ratusan jurnal Scopus yang tidak memungut APC (Article Processing Charge), terutama jurnal subscription-based. Jurnal open access umumnya berbayar, namun banyak yang menyediakan waiver untuk peneliti dari negara berkembang termasuk Indonesia.

Berapa quartile Scopus yang diakui untuk KUM dosen?

Berdasarkan regulasi Kemendikbud, semua quartile (Q1–Q4) jurnal Scopus diakui untuk kenaikan jabatan akademik. Perbedaannya ada pada bobot poin KUM yang diberikan — Q1 mendapat poin tertinggi.

Bisakah mahasiswa S2 publikasi di jurnal Scopus?

Bisa. Tidak ada batasan jenjang pendidikan untuk submit ke jurnal Scopus. Yang dinilai adalah kualitas naskah, bukan status akademik penulisnya.

Apa bedanya jurnal Scopus dengan jurnal SINTA?

SINTA adalah sistem indeksasi jurnal nasional Indonesia. Scopus adalah database internasional. Jurnal Scopus umumnya memiliki standar lebih tinggi dan diakui secara global, sedangkan jurnal SINTA lebih mudah diakses dan prosesnya lebih cepat.

Butuh Bantuan Publikasi di Jurnal Scopus?

Tim Riviera Publishing berpengalaman mendampingi peneliti Indonesia untuk publikasi di jurnal Scopus Q1 hingga Q4 — dari persiapan naskah, pemilihan jurnal, hingga pendampingan proses review.

  • ✅ Konsultasi jurnal target gratis
  • ✅ Pendampingan revisi reviewer
  • ✅ Rekam jejak ACC di berbagai bidang ilmu
You might also like